Pendapat Ibnul Qayyim Tentang Kafa'ah

"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
  Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan

Tinjauan Terhadap Kafa'ah

"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
   Demikianlah pendapat-pendapat sekitar kafa'ah dari para ulama madzhab dalam Islam. Ringkasnya ada tiga, yang ekstrim, longgar dan moderat.

Waktu Berlakunya Kafa'ah

   Kafa'ah dinilai pada waktu terjadinya akad nikah. Apabila keadaannya berubah sesudah terjadinya akad, maka tidak mempengaruhi akad, karena syarat akad di teliti pada waktu akad.

Kafa'ah Adalah Hak Perempuan dan Walinya

   Kebanyakan ulama berpendapat bahwa kafa'ah adalah hak perempuan dan walinya. Wali tidak mengawinkan perempuan dengan orang yang tidak sekufu kecuali apabila yang bersangkutan itu ridha.

Kafa'ah Itu Untuk Siapa?

   Kafa'ah dalam perkawinan itu diperlakukan bagi laki-laki, bukan bagi perempuan. artinya, orang laki-lakilah yang disyaratkan agar sekufu dengan perempuan yang akan di kawininya, setingkat dengan si perempuan dan si perempuan tidak disyaratkan harus sepadan dengan laki-lakinya. Hal ini dengan alasan:

Kafa'ah Dalam Perkawinan

   Maksud kafa'ah dalam perkawinan ialah persesuaian keadaan antara si suami dengan perempuannya, sama kedudukannya. Suami seimbang kedudukannya dengan isterinya di masyarakat, sama baik akhlaknya dan kekayaannya. Persamaan kedudukan suami dan isteri akan membawa ke arah rumah tangga yang sejahtera,

Memilih Suami

  Apabila seorang laki-laki diperingatkan untuk berhati-hati memilih isteri, supaya mendapat jodoh perempuan yang baik dan beragama, maka seorang wali juga harus berhati-hati dalam mencarikan jodoh anaknya, demi kehormatan dan kemuliaannya.
  Hendaknya ia tidak mencari menantu yang tidak beragama, tidak berakhlak. Sebab orang yang baik, beragama dan berakhlak akan mempergauli isterinya dengan baik atau akan melepaskannya dengan baik pula.

  Seorang laki-laki pernah datang kepada Hasan bin Ali Bin Abi Thalib: "Saya punya anak perempuan, menurut pendapatmu dengan